Sudah jam 15.00 dan aku belum mendapat tebengan untuk pergi liqo'. SMS ke semua kawan-kawan tapi semuanya sudah dengan tebengannya masing -masing. Pilihan terakhir adalah pergi dengan labi-labi. Sebenarnya aku sangat ketakutan karena untuk sampai ke tempat liqo' harus dua kali naik labi-labi. Sempat ada bisikan nakal dari si Qarin "udah ga usah pergi aja ka". Tapi bisikan itu buru -buru ku tepis. Aku memberanikan diri untuk naik labi-labi sendirian sampai ke kota. Pemberhentian terakhir dari labi-labi itu di depan Masjid Raya, karena semua penumpangnya turun aku pun ikut turun. Kemudian aku berusaha mencari tempat pangkalan labi-labi yang bisa membawaku ke tempat liqo' hari ini.Tapi hasilnya nihil, aku tidak menemukannya. Aku memutuskan untuk masuk ke halaman Masjid dulu, kemudian aku meng SMS salah satu teman liqo' ku "kak ada yang bisa jemput Ika ga, kalo ga ada yang bisa biar ika naik labi-labi lagi"
Tidak ada balasan, kemudian bisikan aneh itu muncul lagi "tu kan ga da yang jemput, udah ga usah liqo' aja, libur sekali-sekali kan ga apa-apa ". si Qarin memang jagonya dalam merayu, tapi kali ini rayuannya tetap tidak berhasil. Setelah menunggu jawaban dari temanku yang tak kunjung datang, aku kembali berjalan menyusuri jalanan Masjid Raya mencari pangkalan labi-labi dan tetap tidak ku temukan, dengan sepenuh hati aku membuang jauh-jauh sindrom jalan raya yang telah lama ku derita, takut keramaian, itulah sebabnya sampai sekarang aku tak berani mengendarai motor. Setelah memastikan kanan-kiri kosong dari kendaraan, barulah aku berani untuk menyeberang.
Tak ada satu pun labi-labi yang lewat, aku mencoba bersabar sembari berharap ada yang melihat pesan singkatku. Setelah menunggu beberapa saat ada satu labi-labi yang lewat tapi itu labi-labi ke arah Seulimum, berbeda arah dengan tujuanku. Aku semakin panik, karena jadwal liqo' udah lewat satu jam sampai ketika ada yang meneleponku "assalamu'alaikum, hallo ika dimana, ika tunggu di Masjid ya biar dijemput" Betapa bersyukurnya aku menerima telepon itu, kaki yang semakin bergetar aku paksakan berjalan lagi menuju Masjid.
Seraya menunggu temanku menjemput, aku duduk di halaman Masjid sambil mengulang hafalan Al-quranku yang tak seberapa. Ku lemparkan pandangan keseluruh penjuru, memang tidak banyak yang berubah dari tempat ini tetap saja indah, hanya saja sekarang sudah ada beberapa pohon kurma yang sejak tadi setia memayungiku dari terik matahari. Tukang foto keliling masih terlihat satu dua, mereka tetap bertahan di tengah canggihnya Gadget yang dimiliki para pengunjung. Tukang foto di Masjid Raya sangat terkenal dengan kata-kata mutiaranya, dan kami acap kali membuatnya sebagai lelucon, setelah mengambil beberapa gambar di manapun itu, lantas si juru kamera mengatakan "dek, nanti hasil fotonya diambil di Masjid Raya ya".
Kemudian pandanganku tertuju pada tarian anggun ikan-ikan Mas di dalam kolam, aku memperhatikan dengan saksama, fikiranku langsung menyeberangi masa silam, iya tepatnya 16 tahun yang lalu saat aku pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, waktu itu orangtuaku mempunyai nazar untuk melaksanakan prosesi "turun tanah" adik bungsuku di Masjid Raya, karena aku terbilang masih kecil dibanding dua kakakku yang lain makanya aku juga ikut kesana. Aku terlalu tertarik dengan ikan - ikan yang lincah berenang kesana-kemari, terlebih lagi warna ikan yang cerah sehingga membuatku tak ingin mengedipkan mata.
dan kini aku berada di tempat yang sama, tepat di depan kolam masa lalu. Hal ini tepat membuat penyakit homesick ku dari akut kini berubah menjadi kronik, rindu berat. Aku rindu masa-masa di manja sama bapak dan mamak walau kini mereka masih melakukan hal yang sama di umurku yang hampir menginjak 21 tahun ini. Mereka tetap memperlakukanku sebagai putri kecil mereka, "Kak Wang" yang suka merengek kalau keinginannya tidak terpenuhi. Jarak 6 jam ke kampung halaman seperti menjadi jarak 6 tahun. Aku ingin pulang.
dan kini aku berada di tempat yang sama, tepat di depan kolam masa lalu. Hal ini tepat membuat penyakit homesick ku dari akut kini berubah menjadi kronik, rindu berat. Aku rindu masa-masa di manja sama bapak dan mamak walau kini mereka masih melakukan hal yang sama di umurku yang hampir menginjak 21 tahun ini. Mereka tetap memperlakukanku sebagai putri kecil mereka, "Kak Wang" yang suka merengek kalau keinginannya tidak terpenuhi. Jarak 6 jam ke kampung halaman seperti menjadi jarak 6 tahun. Aku ingin pulang.
Tiba-tiba lamunanku terpecah oleh nada getar hp-ku "Assalamu'alaikum, ika dimana? ika ke parkiran dekat pasar Aceh lama terus ya "
langsung saja aku bergegas, memasukkan Al-quran ke dalam tas dan menghapus air mata yang tanpa sadar keluar begitu saja. Setelah sampai di parkiran, celingak-celinguk kanan - kiri, aku menemukan sosok sahabatku, gadis anggun berjilbab ungu. Tanpa ba bi bu lagi, sahabatku langsung memacu kendaraannya. Aku pikir kami langsung ke rumah Murabbiyah kami, ternyata kami masih harus singgah dulu ke pasar Peunayong untuk membeli ikan tenggiri. iya benar, Agenda liqo' kami hari ini adalah memasak, tepatnya membuat empek-empek, jadi liqo' itu tidak sekadar pengajian saja ada juga pelatihan softskill, ya seperti memasak ini. "jadi mana tau nanti ga jadi dokter, kan bisa usaha jualan empek-empek" .
Lalu setelah terlibat tawar-menawar yang sengit dengan si abang penjual ikan, kami langsung bergegas lagi karena bahan utama untuk membuat empek-empek ada sama kami. Jam 16.30 kami sampai, ikan yang kami bawa langsung diolah sama teman-teman yang telah menunggu dari tadi. Tampak wajah-wajah penasaran yang ingin langsung mengeksekusi si empek-empek. Ibu dari Murabbbiyah kamu dengan telaten mengajarkan untuk membuatnya. "ikannya dibesihkan dan di haluskan, terus tambahkan tepung tapioka,kalau bisa produk yang bagus biar hasilnya lebih lembut, tambahkan santan dan garam secukupnya, diuleni sampai adonan ga lengket lagi di tangan"
begitulah isi tutorial singkat darinya, dan beliau sangat mirip dengan nenekku yang telah berpulang bulan lalu, sifat ramah dan apa adanya, mudah bergaul dengan siapa saja walaupun umur kami terpaut jauh. Saat itu aku air mataku hampir keluar lagi, aku kembali mengingat nenek yang belum sempat ku ziarahi. Tapi aku tidak boleh menangis lagi, aku menahannya dengan mengalihkan perhatianku kepada candaan teman-teman.
***
Adonan telah selesai diaduk, tahap selanjutnya adalah membentuk dan mengukusnya. Kami membuat adonan tersebut dalam bentuk kapal selam, di tengahnya kami mengisi dengan sesendok kocokan telur ayam. setelah semuanya mempunyai satu kapal selam, selanjutnya apalagi kalau bukan program bernarsis ria. foto-foto, foto sana foto sini dengan berbagai gaya biar kapal selamnya kelihatan. terakhir baru dikukus dan ditunggu sampai matang.
![]() |
| adonan empek-empek sebelum dibentuk menjadi kapal selam |
Tak berapa lama kukusan itu matang dan langsung diangkat supaya adonan ronde ke-2 bisa langsung di kukus. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kapal selam yang kami buat sore itu. Kapal selam yang telah dikukus kemudian dipotong -potong dan ditaburi ketimun di atasnya (ga pake digoreng lagi karena keburu lapar). Setelah adonan ke dua matang dan dipotong-potong juga, barulah disiram dengan kuah cuka yang asam manis pedas itu. Kami menikmati kapal selam sepiring bedua ( biar tidak memberatkan team pencuci piring), di tengah terpaan angin sore yang menyelinap antara celah-celah jeruji jendela, betapa romantisnya itu. Setelah jeritan cacing di perut berrhasil dibekap dengan lezatnya kapal selam, liqo' sore itu ditutup dengan agenda persiapan di bulan Ramadhan, salah satunya dengan berinfaq. Kami memang mempunyai target berinfaq pada bulan Ramadhan yang akan disalurkan melalui PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat). Lembaga ini bertujuan menjadikan orang yang hari ini menjadi Mustahiq agar besok bisa menjadi Muzakki. Ayo yang mau berinfaq, shadaqah, ataupun zakat salurkan melalui lembaga yang berkompeten di bidangnya.
![]() |
| empek-empek 'kapal selam' siap santap |
***
Matahari telah kembali ke peraduannya, panggilan cinta Allah akan segera datang, kami pun menyegerakan diri untuk pamit pulang. Kapal selam hari ini benar-benar menjadi pengobat rindu yang ajaib.
Seuramoe Hatee, 14 Ra'jab 1435 H ; 22.17
sedikit homesick yang terobati



Tidak ada komentar:
Posting Komentar