Jumat, 09 Mei 2014

Sang Guru Besar

      Menjadi mahasiswa Kedokteran mungkin merupakan mimpi kebanyakan orang, begitupun dengan saya. Sejak kecil jika ada orang bertanya tentang cita –cita saya maka menjadi seorang dokter adalah jawabannya. Dalam pandangan saya, menjadi seorang dokter  begitu hebat, ia mampu mengukir senyum ketika bertemu pasien-pasiennya walaupun senyum itu terkadang harus dipalsukan karena begitu banyak masalah yang dihadapi. Oleh karena itu saya ingin menjadi seorang dokter yang bisa membuat orang lain tersenyum bahagia dengan  menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran. 

       Menjelang akhir kelas XII SMA saya mulai disibukkan dengan berbagai jalur masuk Universitas. Pertama kali saya mendaftar Undangan, jurusan yang saya pilih pastinya Pendidikan Dokter di Universitas Syiah Kuala. Tapi dari seleksi itu, saya belum berhasil menembus FK Unsyiah. Kemudian saya mengikuti tes SNMPTN dengan mengambil jurusan yang sama, dan lagi-lagi rezeki belum ada di pihak saya. Waktu itu saya mulai menyerah dan mulai mengubur impian mulia itu, namun rencana Allah begitu indah, sebelumnya saya juga mendaftar jalur USMU TPBI dan memang jalur itu yang membawa saya dapat duduk di Fakultas Kedokteran Unsyiah seperti sekarang.

     Masa – masa awal menjadi mahasiswa, kami diwajibkan untuk mengikuti METAMORFOSIS (Medical Faculty Introduction for being Smart, Intelectual, and Sosial). Ini merupakan kegiatan seperti OSPEK yang benar-benar “ospek” yaitu pengenalan seputar Fakultas Kedokteran tanpa beban fisik dan beban mental. Di hari kedua Metamorfosis, kami diperkenalkan dengan ruangan – ruangan yang ada di sana hingga sampailah kami ke ruangan tempat para Guru Besar berada. Pertama kali memasuki ruangan, aroma semerbak dari formalin langsung menyapa hidung-hidung kami dan membuat mata perih. Disana juga ada kakak – kakak assistant yang menjelaskan panjang lebar tentang ruangan itu.

“adik-adik ini adalah ruang praktikum anatomi, disini ada sejumlah cadaver yang sangat membantu kita dalam belajar, jadi belajarlah dengan sungguh-sungguh”
 
Kemudian kakak tersebut  melanjutkan penjelasannya mengenai peraturan sebelum dan saat berada di ruang praktikum

“sebelum masuk lab pastikan semuanya lengkap, jas lab, jilbab dikeluarkan bagi mahasiswi, memakai badge name, kaos kaki, penampilan sesuai performance kampus, pakai jam tangan, dan harus membawa atlas anatomi. Saat diruangan dilarang untuk membuat kegaduhan. Jika semuanya tidak dipenuhi maka tidak dibenarkan mengikuti praktikum

Peraturan itu terdengar begitu tegas, cukup membuat saya dan teman-teman mengerutkan dahi, namun seiring dengan praktikum yang telah kami lewati, itu semua diterapkan demi berjalannya kelangsungan praktikum yang baik. Setelah peraturan disampaikan, saatnya melihat sang guru alias cadaver. Berbagai ekspresi muncul ketika pertama kali melihatnya, ada yang berteriak tertahan, ada yang menutup mata, dan saya sendiri hanya melihatnya dengan datar ditambah perasaan ngilu karena kasihan melihatnya. Bagaimana mungkin ada orang yang sudah tak bernyawa lagi tidak segera di kuburkan malah diawetkan dengan formalin. Terdengar mengerikan memang, tapi ini semua merupakan ilmu, semoga ada kebaikan untuknya. 

***

       Tidak terasa sudah semester dua, saatnya jadwal praktikum anatomi pertama kami. Pelajaran pertama yang kami pelajari adalah tentang osteologi (tulang). Dan benar saja, sebelum memasuki ruang praktikum, semua yang pernah dikatakan oleh kakak assistant saat Metamorfosis dulu diterapkan. Satu persatu performance kami diperhatikan sampai ke jam tangan sekalipun. Setelah semuanya diabsen , kami masih harus menjawab soal pretest dimana nilai yang kami peroleh  harus di atas 60, karena jika tidak, kami juga tidak dibenarkan mengikuti praktikum hari itu. Begitu perasaan ini campur-aduk menjawab pretest pertama kali dan Alhamdulillah tidak dikeluarkan. Setelah itu masing-masing kelas memasuki tiap pos yang telah disediakan dimana sudah ada kakak assistant yang siap mengajarkan kami. Praktikum hari itu ditutup dengan pretest yaitu dengan melihat gambar pada slide yang bagi saya gambar itu terlalu abstrak atau mungkin saya yang kurang memahami setiap bagian yang telah diajarkan.
      
       Dan kini saya sudah di semester empat akhir, tinggal satu praktikum anatomi lagi yang harus saya lewati dan setelah itu tidak ada lagi moment pertemuan dengan sang Guru Besar. Berbagai pretest, posttest, tentament,belajar bareng assistant rasanya hanya dilewatkan begitu saja. Ilmu yang diberikan pun belum sempurna terserap, masuk praktikum blok baru pelajaran praktikum di blok sebelumnya menguap begitu saja. Rasanya begitu malu ketika ada dokter yang masih hafal betul setiap seluk-beluk anatomi padahal pelajaran itu beliau dapatkan mungkin belasan atau puluhan tahun yang lalu. Sedangkan saya, pelajaran praktikum bulan kemarin belum tentu  semuanya ada dalam memory jangka panjang.

       Satu – satunya cara untuk dapat mengingat semua ilmu yang telah dipelajari adalah dengan mengajarkannya kepada orang lain. Karena ilmu itu ibarat air, jika ia mengalir maka akan jernihlah ia sedangkan air yang tergenang hanya akan berbau kemudian menguap seperti alkohol. Apalagi untuk pelajaran Anatomi, bagaimana mungkin menjadi dokter yang baik jika dasarnya saja tidak mampu dikusai.

Seuramoe hatee, 07 Mei 2014
*persiapan mendaftar Asistant Lab Anatomi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar