Menjadi mahasiswa
Kedokteran mungkin merupakan mimpi kebanyakan orang, begitupun dengan saya.
Sejak kecil jika ada orang bertanya tentang cita –cita saya maka menjadi
seorang dokter adalah jawabannya. Dalam pandangan saya, menjadi seorang dokter begitu hebat, ia mampu mengukir senyum ketika
bertemu pasien-pasiennya walaupun senyum itu terkadang harus dipalsukan karena
begitu banyak masalah yang dihadapi. Oleh karena itu saya ingin menjadi seorang
dokter yang bisa membuat orang lain tersenyum bahagia dengan menuntut ilmu di Fakultas Kedokteran.
Menjelang akhir kelas XII SMA saya mulai disibukkan
dengan berbagai jalur masuk Universitas. Pertama kali saya mendaftar Undangan,
jurusan yang saya pilih pastinya Pendidikan Dokter di Universitas Syiah Kuala.
Tapi dari seleksi itu, saya belum berhasil menembus FK Unsyiah. Kemudian saya
mengikuti tes SNMPTN dengan mengambil jurusan yang sama, dan lagi-lagi rezeki
belum ada di pihak saya. Waktu itu saya mulai menyerah dan mulai mengubur impian
mulia itu, namun rencana Allah begitu indah, sebelumnya saya juga mendaftar
jalur USMU TPBI dan memang jalur itu yang membawa saya dapat duduk di Fakultas
Kedokteran Unsyiah seperti sekarang.
Masa – masa awal menjadi mahasiswa, kami diwajibkan untuk
mengikuti METAMORFOSIS (Medical Faculty
Introduction for being Smart, Intelectual, and Sosial). Ini merupakan kegiatan
seperti OSPEK yang benar-benar “ospek” yaitu pengenalan seputar Fakultas
Kedokteran tanpa beban fisik dan beban mental. Di hari kedua Metamorfosis, kami
diperkenalkan dengan ruangan – ruangan yang ada di sana hingga sampailah kami
ke ruangan tempat para Guru Besar
berada. Pertama kali memasuki ruangan, aroma semerbak dari formalin langsung
menyapa hidung-hidung kami dan membuat mata perih. Disana juga ada kakak –
kakak assistant yang menjelaskan panjang lebar tentang ruangan itu.
“adik-adik
ini adalah ruang praktikum anatomi, disini ada sejumlah cadaver yang sangat
membantu kita dalam belajar, jadi belajarlah dengan sungguh-sungguh”
Kemudian kakak
tersebut melanjutkan penjelasannya
mengenai peraturan sebelum dan saat berada di ruang praktikum
“sebelum
masuk lab pastikan semuanya lengkap, jas lab, jilbab dikeluarkan bagi
mahasiswi, memakai badge name, kaos kaki, penampilan sesuai performance kampus,
pakai jam tangan, dan harus membawa atlas anatomi. Saat diruangan dilarang
untuk membuat kegaduhan. Jika semuanya tidak dipenuhi maka tidak dibenarkan
mengikuti praktikum”
Peraturan itu terdengar
begitu tegas, cukup membuat saya dan teman-teman mengerutkan dahi, namun
seiring dengan praktikum yang telah kami lewati, itu semua diterapkan demi
berjalannya kelangsungan praktikum yang baik. Setelah peraturan disampaikan,
saatnya melihat sang guru alias
cadaver. Berbagai ekspresi muncul ketika pertama kali melihatnya, ada yang
berteriak tertahan, ada yang menutup mata, dan saya sendiri hanya melihatnya
dengan datar ditambah perasaan ngilu karena kasihan melihatnya. Bagaimana mungkin ada orang yang sudah tak bernyawa lagi tidak segera di kuburkan malah diawetkan dengan formalin. Terdengar mengerikan memang, tapi ini semua
merupakan ilmu, semoga ada kebaikan untuknya.
***
Dan
kini saya sudah di semester empat akhir, tinggal satu praktikum anatomi lagi
yang harus saya lewati dan setelah itu tidak ada lagi moment pertemuan dengan
sang Guru Besar. Berbagai pretest,
posttest, tentament,belajar bareng assistant rasanya hanya dilewatkan begitu
saja. Ilmu yang diberikan pun belum sempurna terserap, masuk praktikum blok
baru pelajaran praktikum di blok sebelumnya menguap begitu saja. Rasanya begitu
malu ketika ada dokter yang masih hafal betul setiap seluk-beluk anatomi
padahal pelajaran itu beliau dapatkan mungkin belasan atau puluhan tahun yang
lalu. Sedangkan saya, pelajaran praktikum bulan kemarin belum tentu semuanya ada dalam memory jangka panjang.
Satu
– satunya cara untuk dapat mengingat semua ilmu yang telah dipelajari adalah
dengan mengajarkannya kepada orang lain. Karena ilmu itu ibarat air, jika ia
mengalir maka akan jernihlah ia sedangkan air yang tergenang hanya akan berbau
kemudian menguap seperti alkohol. Apalagi untuk pelajaran Anatomi, bagaimana mungkin menjadi dokter yang baik jika dasarnya saja tidak mampu dikusai.
Seuramoe hatee, 07 Mei 2014
*persiapan mendaftar Asistant Lab Anatomi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar