Pertama kali mulai mengenalinya, berdiri di depan pintu
Mushalla Asy-Syifaa’ sembari memegang lembaran – lembaran absen untuk tes
penjajakan UP3AI, lantas berteriak dengan suara lantang memanggil nama kami
satu – persatu.
“Ika Mawarni” dia memanggil namaku, tak lama setelah aku
masuk ke dalam Mushalla, ia bergegas lagi menemui kakak yang lain, membicarakan
sesuatu sambil menunjuk absen, sejurus kemudian ia sudah berada di depan pintu
Mushalla lagi untuk mengabsen temanku yang lain.
“kakak ini super sibuk sepertinya” batinku.
Dan wajahnya semakin sering aku lihat wara – wiri di
Mushalla, dia menyapa siapa saja dengan wajah sumringahnya. Lambat laun aku
juga semakin dekat dengannya yang belakangan aku tau bahwa ia adalah adik
kandung dari teman seangkatanku, Kak Aini. Aku suka melihatnya jika sedang
berdua dengan Kak Aini, terlihat lucu dengan perawakan yang mungil – mungil dan
gaya bahasa ala anak Jakarta. Bergabung dengan organisasi yang sama dengannya,
semakin membuatku takjub akan sosok sepertinya.
| |
| Kak Nia dan Kak Aini,tak kembar tapi sama |
Inilah dia, namanya Muniati Syahadah, salah satu ‘kakak
ideologisku’ di kampus. Dari namanya saja kita bisa langsung membaca karakternya,
bersungguh – sungguh dalam hal apapun, cekatan, dan tidak mudah menyerah. Hari
ini genap usianya 20 tahun. Masih muda sekali bukan?
walaupun Kak nia lebih muda setahun empat bulan dari padaku, tetap saja ia aku panggil kakak, selain sebagai kakak letting di Kampus, ia juga kakak yang mengajarkanku banyak hal terutama masalah 'Amanah' yang sedangku emban. Kak Nia selalu mengingatkanku, menanyakan perkembangan pekerjaanku, padahal aku kerap lupa mengerjakannya. Dari sikapnya ia mengajariku untuk tidak mudah menyerah dan mengeluh, aku ingat sekali saat persiapan MMLC Nasional, kaki Kak Nia sedang sakit, katanya nyeri sekali jika dipakai berjalan, tapi karena persiapan MMLC masih sangat minim, Kak Nia melupakan sakitnya, ia tetap berjalan, naik - turun panggung Anjung Mon Mata, memastikan apa yang sudah dan belum beres. Sampai malam pembukaan MMLC aku menanyakan lagi kondisi kakinya, dia hanya menjawab 'ga sempat untuk mikiri sakitnya lagi Ka' jawabnya sambil tersenyum. Begitulah ia, selalu semangat.
Teruslah begitu Kak, terus menginspirasi Ika dengan semangat - semangat Kak Nia. Semoga usia kepala dua ini semakin menambah kedewasaan Kakak dalam menghadapi semua hal.
Barakallah fi umrik Kakak ideologisku ^^
oh iya para pembaca,
Belakangan ini Kak Nia tengah disibukkan dengan urusan skripsinya,
konsul sana – sini, mari kita selipkan doa agar segala urusannya dimudahkan
Allah SWT, cepat sidang terus wisuda, dan cepat jadi Dek Coas.
Aamiiin ya Rabb
Seuramoe Hate, 02 oktober 2014
19.30
Semoga ikatan ini terus terpaut
Semangat mpok mumun, smg lancar skripsinya semua :* makin berkah umurnya, makin disayang Allah
BalasHapusSemangat mpok mumun, smg lancar skripsinya semua :* makin berkah umurnya, makin disayang Allah
BalasHapus