Ini
cerita tentang Ibuku yang biasa aku panggil ‘Mamak’. Hari ini tepat setengah
abad usianya. Tidak ada kue ulang tahun maupun makan besar karena ini bukan
tradisi di keluarga kami, hari ulang tahun memang bukan suatu yang terlalu special,
sama saja seperti hari – hari yang lain. Bukan hari ulang tahunnya yang spesial,
tapi orangnya, Mamak adalah orang yang paling special bahkan more than special dalam hidupku.
Walaupun sifat kami sering bertolak belakang, tapi tidak ada yang dapat
menggantikan beliau meski dengan harta sepenuh tujuh lapis dan tujuh lapis bumi.
Mamak
itu orangnya ramah kepada siapa saja, ketemu Ibu – Ibu di labi-labi diajak
ngomong, lagi nunggu antrian di klinik dokter gigi, orang – orangnya disapa,
beda denganku, paling anti memulai pembicaraan dengan orang yang baru kenal,
kalau tidak di tegur duluan, ya ga akan ngomong, paling maksimal hanya
tersenyum. (jangan ditiru).
Mamak
memiliki sifat kewaspadaan yang tinggi bahkan cenderung berlebihan
menurutku. Yang paling sering masalah kunci rumah, “coba di tarik lagi pintu
depan, udah Mamak putar kuncinya apa belum” padahal udah berjalan beberapa
langkah ke luar pagar atau “eh, tadi kompor udah Mamak matikan belum? Lihat lagi,
lihat lagi”. Dan kekhawatiran Mamak
semakin menjadi – jadi kalau salah satu anaknya belum pulang, maka akan terus
ditelpon, disuruh cepat pulang. Hihihi
Hanya
Mamak yang punya cara ampuh untuk ‘menyadarkan’ anaknya yang bermalas – malasan
di Minggu pagi. Hari minggu adalah hari bersih – bersih sedunia. Aku yang masih
betah di tempat tidur terpaksa bangun karena panggilannya “Wang, bangun, bantu
cabut rumput dulu, anak gadis jam segini kok masih tidur”. Dengan malas aku
berjalan menuju halaman samping rumah, Mamak sudah mulai mencabuti rumput –
rumput itu satu persatu. Aku dengan mata yang masih sayu, juga mencabuti rumput
itu, “Mak, kenapa harus cabut rumput, nanti kan tumbuh lagi” kataku berharap
kegiatan mencabut rumput dapat dihentikan. Dengan masih mencabut rumput mamak
menjawab “ya sama aja dengan makan, ngapain makan kalau nanti lapar lagi”
Mati
kutu rasanya, aku hanya memandangi lekat – lekat rumput yang menyelinap di
antara bebatuan dan mulai mencabutnya dengan sungguh – sungguh, tidak berani
ngeles lagi.
Mamak
orang yang paling tegar yang pernah aku temui. Mamak lebih sering menangis
karena menonton sinetron Indonesia dibandingkan saat menghadapi masalah hidup. Tidak
pernah aku melihat Mamak menangis saat ada masalah, bahkan saat Bapak divonis
harus cuci darah karena penyakit ginjal yang dideritanya. Mamak sabar
mengantarkan Bapak tiga minggu sekali ke Banda Aceh untuk cuci darah, pulang
pergi, paginya harus lanjut mengajar lagi. Mamak menemani bapak operasi ke
Penang, padahal beliau ga tau daerah Penang, naik pesawat saja belum pernah
waktu itu. Sendiri menunggui Bapak di kamar operasi, bertanya kesana – sini dengan
bahasa melayu pas – pasan. Terus menyemangati Bapak, mengatur pola makan,
sampai akhirnya Bapak tak perlu cuci darah lagi.
![]() |
| Mamak dan Bapak |
Itulah
Mamak, banyak sekali sifat – sifat Mamak yang membuatnya semakin istimewa di
mata kami berempat, anak – anaknya. Tidak mungkin diuraikan satu – persatu disini.
Aku sangat kagum padanya.
Sekali
lagi, berkah untuk umur Mamak, selalu diberi kesehatan dan semoga Allah
senantiasa mencurahkan kasih sayangnya untuk keluarga kita. Terimakasih sudah
mendekapku dengan hangat selama 21 tahun
ini, dan semoga aku bisa membalasnya dengan memakaikan mahkota dan jubah kemulian
di hari akhir nanti.
aku mencintaimu
seperti lautan yang mencintai debur ombaknya
Selasa, 12 agustus 2014
nulis disamping Mamak


Tidak ada komentar:
Posting Komentar