Selasa, 12 Agustus 2014

Selamanya Cinta

Ini cerita tentang Ibuku yang biasa aku panggil ‘Mamak’. Hari ini tepat setengah abad usianya. Tidak ada kue ulang tahun maupun makan besar karena ini bukan tradisi di keluarga kami, hari ulang tahun memang bukan suatu yang terlalu special, sama  saja seperti hari – hari yang lain. Bukan hari ulang tahunnya yang spesial, tapi orangnya, Mamak adalah orang yang paling special bahkan more than special dalam hidupku. Walaupun sifat kami sering bertolak belakang, tapi tidak ada yang dapat menggantikan beliau meski dengan harta sepenuh tujuh lapis dan tujuh lapis bumi.

Mamak itu orangnya ramah kepada siapa saja, ketemu Ibu – Ibu di labi-labi diajak ngomong, lagi nunggu antrian di klinik dokter gigi, orang – orangnya disapa, beda denganku, paling anti memulai pembicaraan dengan orang yang baru kenal, kalau tidak di tegur duluan, ya ga akan ngomong, paling maksimal hanya tersenyum. (jangan ditiru).

Mamak memiliki sifat kewaspadaan yang tinggi bahkan cenderung berlebihan menurutku. Yang paling sering masalah kunci rumah, “coba di tarik lagi pintu depan, udah Mamak putar kuncinya apa belum” padahal udah berjalan beberapa langkah ke luar pagar atau “eh, tadi kompor udah Mamak matikan belum? Lihat lagi, lihat lagi”.  Dan kekhawatiran Mamak semakin menjadi – jadi kalau salah satu anaknya belum pulang, maka akan terus ditelpon, disuruh cepat pulang. Hihihi 

Hanya Mamak yang punya cara ampuh untuk ‘menyadarkan’ anaknya yang bermalas – malasan di Minggu pagi. Hari minggu adalah hari bersih – bersih sedunia. Aku yang masih betah di tempat tidur terpaksa bangun karena panggilannya “Wang, bangun, bantu cabut rumput dulu, anak gadis jam segini kok masih tidur”. Dengan malas aku berjalan menuju halaman samping rumah, Mamak sudah mulai mencabuti rumput – rumput itu satu persatu. Aku dengan mata yang masih sayu, juga mencabuti rumput itu, “Mak, kenapa harus cabut rumput, nanti kan tumbuh lagi” kataku berharap kegiatan mencabut rumput dapat dihentikan. Dengan masih mencabut rumput mamak menjawab “ya sama aja dengan makan, ngapain makan kalau nanti lapar lagi”

Mati kutu rasanya, aku hanya memandangi lekat – lekat rumput yang menyelinap di antara bebatuan dan mulai mencabutnya dengan sungguh – sungguh, tidak berani ngeles lagi.

Mamak orang yang paling tegar yang pernah aku temui. Mamak lebih sering menangis karena menonton sinetron Indonesia dibandingkan saat menghadapi masalah hidup. Tidak pernah aku melihat Mamak menangis saat ada masalah, bahkan saat Bapak divonis harus cuci darah karena penyakit ginjal yang dideritanya. Mamak sabar mengantarkan Bapak tiga minggu sekali ke Banda Aceh untuk cuci darah, pulang pergi, paginya harus lanjut mengajar lagi. Mamak menemani bapak operasi ke Penang, padahal beliau ga tau daerah Penang, naik pesawat saja belum pernah waktu itu. Sendiri menunggui Bapak di kamar operasi, bertanya kesana – sini dengan bahasa melayu pas – pasan. Terus menyemangati Bapak, mengatur pola makan, sampai akhirnya Bapak tak perlu cuci darah lagi. 
Mamak dan Bapak


Itulah Mamak, banyak sekali sifat – sifat Mamak yang membuatnya semakin istimewa di mata kami berempat, anak – anaknya. Tidak mungkin diuraikan satu – persatu disini. Aku sangat kagum padanya.

Sekali lagi, berkah untuk umur Mamak, selalu diberi kesehatan dan semoga Allah senantiasa mencurahkan kasih sayangnya untuk keluarga kita. Terimakasih sudah mendekapku dengan hangat selama  21 tahun ini, dan semoga aku bisa membalasnya dengan memakaikan mahkota dan jubah kemulian di hari akhir nanti.

aku mencintaimu
seperti lautan yang mencintai debur ombaknya 



Selasa, 12 agustus 2014
nulis disamping Mamak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar