Kamis, 18 September 2014

Entah siapa lagi yang bisa kupandangi lekat – lekat


Wajah yang selalu mengukir senyum
Tapi sore itu tertutup oleh masker
Kakak sakit, kak?
Biasalah Cuma Flu, harus ditutup pakai masker biar virusnya ga kemana – mana
Jawabmu santai lantas melanjutkan kata nasehat yang terlafaz dari balik masker lambang bulan sabit merah itu.

Sekali dua, kau menarik napas dalam, mungkin sangat sulit untuk menarik oksigen masuk
Namun terus saja kau memberi pembelajaran untuk kami sambil diselingi candawaan yang kami sambut dengan gelak tawa
Setiap rabu kau menyisihkan waktu khusus untuk kami
Duduk melingkar di antara sayap – sayap malaikat yang terus bertasbih
Dan aku selalu merindui saat – saat itu

Jujur..aku kagum kak…
Senang saja memandangimu lekat - lekat
Bahkan dari atas tangga PBL tika kau asik bercakap dengan mahasiswa yang lain
Aku suka memandangi wajah sumringahmu
Senyum yang tak pernah absen walau apapun dan bagaimanapun keadaannya
Aku suka melihat aksi – aksi nyata yang kau lakukan
Demi perubahan katamu, apapun harus dilakukan 

Aku suka caramu memposisikan diri
Di kalangan mana saja, baik mahasiswa, anak – anak, sejawat, bahkan atasan
Aku suka saat dirimu tak malu belajar dari siapa saja
Belajar menggambar saat kita sedang duduk santai di Asy-Syifaa’
Aku suka semua tentangmu..semuanya
Entah siapa lagi yang harus kupandangi lekat – lekat 


Saatnya hari itu datang…
Hari yang kita sebut perpisahan
Pagi itu mendung sekali, tapi bahkan hati kami lebih mendung dari pada langit yang siap menumpahkan airnya
Kita menerobos hujan bersama untuk sampai ditempat yang telah kita tentukan
Duduk melingkar untuk terakhir kali
Diselingi dengan bakar – bakar ikan kemudian makan bersama
Dan kembali kata – kata nasehat yang mengalir dari hati terdalam untuk kami
Tentang apa yang kau rasakan dan harapan besarmu untuk kami

Hari itu pertama kali aku melihat air matamu tumpah
Air mata pengharapan dari seorang guru untuk muridnya
Air mata kasih sayang dari seorang kakak untuk adiknya
Air mata kebahagian dari seorang orang tua untuk anak – anaknya 
karena sudah berhasil tumbuh sejauh ini


Isak tangis yang memecah  deru ombak yang bersahutan
Menjadi saksi ukhwah kita yang kian tumbuh subur
Semoga tak akan terputus meski jarak ribuan kilometer memisahkan
Semoga doa – doa kita di bawah naungan hujan
Menjadi media terbaik untuk segera dikabulkan

Uhibbuki Fillah, kakak kami tersayang...



Seuramoe Hate, 18 Sept 2014
Nama - nama diantara Rabithahku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar